Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Al Uzhma Ja'far Subhani dalam lanjutan pembahasan tafsirnya mengenai surah As Shaf sabtu (13/8) yang berlangsung di Madrasah Hujjatiyah Qom menyatakan, "Ayat pertama dalam surah tersebut dibuka dengan bahasa yang begitu indah mengenai pengagungan kepada Allah swt yang bertasbih segala apa yang ada di langit dan di bumi atas-Nya yang kemudian dilanjutkan dengan ayat yang berhubungan dengan jihad. Dan dalam ayat tersebut Allah swt menyatakan kecintaan-Nya terhadap jihad."
"Jihad termasuk salah satu amalan terpenting dalam Islam. Sebagaimana empat amalan utama lainnya (shalat, zakat, puasa dan haji) yang memiliki rukun-rukun, jihad juga memiliki rukun-rukun tersendiri yang hampir sama." Jelas beliau.
Lebih lanjut mengenai jihad, ulama yang termasuk tenaga pengajar hauzah ilmiyah Qom ini menyatakan, "Jihad pada hakikatnya adalah satu bentuk muamalah antara hamba dengan Tuhan, tidak ubahnya jual beli sebagaimana yang kita kenal. Dalam transaksi jual beli ini, muslimin dan mujahidin menjual nyawa dan jiwa mereka kepada Allah di jalan iman dan Allah membayarnya dengan pengambunan atas dosa-dosanya dan memberinya nikmat berupa surga yang merupakan tempat kediaman yang abadi."
Beliau lebih lanjut menjelaskan, "Nabi Muhammad saww menjadikan ayat ini sebagai pemicu bagi kaum muslimin berjihad menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Beliau juga lewat ayat ini mendidik dan mengajarkan rela berkorban kepada sahabat-sahabat dan kaum muslimin saat itu."
Ayatullah Subhani selanjutnya menambahkan, "Berjihad harus niat ikhlas berperang di jalan Allah, bukan karena menghendaki kekayaan dan harta duniawi. Mujahidin yang ikhlas tidak pernah menerima kekalahan dan kerugian, kalau ia gugur maka ia syahid dan balasannya pahala dan surga Allah, dan jika menang, maka ia memperoleh kemuliaan sebagai pahlawan dan pejuang Islam. Tujuan mereka bukanlah harta dan kedudukan melainkan ridha Allah, sehingga gugur ataupun tetap hidup dalam peperangan mereka tetap memperolehnya selama mereka ikhlas menjalaninya."
Beliau kemudian mengatakan bahwa ayat jihad tersebut untuk masa ini begitu sangat dibutuhkan pengaplikasiannya, dan masyarakat revolusioner Iran telah menunjukkan bukti ampuhnya ayat tersebut. "Iran mampu menjaga kedaulatannya sebagai sebuah Negara yang merdeka dari ronrongan musuh-musuhnya akibat rakyat yang percaya kepada janji-janji Allah dan rela mengorbankan jiwanya di medan jihad. Rakyat Iran bukanlah rakyat yang mencari-cari musuh dan suka dengan peperangan namun jika menghadapi serangan musuh rakyat Iran tidak akan gentar sampai harus lari dari peperangan. Rakyat Iran akan mengerahkan seluruh tenaga dan kesungguhannya untuk berjihad agar tidak diinjak-injak oleh musuh."
Dalam lanjutan pembahasan tafsirnya, Ayatullah Ja'far Subhani kemudian mengatakan, "Dari ayat ini kita bisa mengambil pelajaran, pentingnya kedudukan iman dalam kehidupan manusia. Kita di dunia ini jangan hanya semata-mata mementingkan kepentingan duniawi dan mengejar kebutuhan material semata, namun lebih dari itu kebutuhan ruhani akan nilai-nilai spritual harus juga dipenuhi dan mendapat perhatian yang lebih."
Selanjutnya beliau menyebutkan bahwa ayat jihad dalam Al-Qur'an adalah salah satu berita gaib yang disampaikan Allah melalui RasulNya. "Jauh-jauh sebelumnya Allah swt lewat ayat-ayatNya telah mengisyaratkan kemenangan perang Khaibar dan terjadinya Fathul Makkah, ini adalah bentuk kabar gaib yang disampaikan Allah swt kepada Nabi-Nya Muhammad saww."
Pada bagian lain ceramahnya, Ayatullah Ja'far Subhani menjelaskan, "Allah swt dari surah Al-Baqarah telah menjelaskan Islam adalah agama yang menselaraskan antara kehidupan maknawi dan kehidupan material, dan mengajarkan kepada umat manusia agar tidak hanya memperhatikan satu sisi dan mengabaikan sisi lainnya. Sementara agama lainnya, terkadang lebih mementingkan kehidupan maknawi dan spritual dan mengabaikan kehidupan material begitu juga sebaliknya."
Mengenai kehidupan maknawi dan pendidikan Islam, ulama yang juga marja taklid ini mengatakan, "Mendidik anak jangan mengambil contoh-contoh buruk dari dunia barat, melainkan didiklah generasi muda dengan merujuk pada pendidikan Islam yang mengutamakan keduanya, duniawi dan ukhrawi."